Waspada, Ini Gangguan Kesehatan yang Rentan Dialami Kakek dan Nenek

Menjadi tua dan sehat merupakan alternatif tiap orang. Meskipun tidak dapat diacuhkan bahwa semakin bertambahnya usia, orang-orang lanjut usia (lansia) juga mengalami penurunan keadaan jasmani. Oleh sebab itu, perlu diwaspadai gangguan kesehatan yang acap kali terjadi pada lansia, apa saja?

\\\”Yang acap kali terjadi merupakan delirium atau gangguan kesadaran. Hal ini disebabkan sebab kemampuan seseorang untuk berfokus terganggu,\\\” papar Dr dr C. Heriawan Soejono SpPD K-Ger, M.Epid, FACP, FINASIM dari divisi geriatri penyakit dalam RSCM-FKUI.

Berdasarkan dr Heriawan, keadaan ini dapat mengganggu waktu tidur malam. Penyebabnya berbagai-variasi merupakan penyakit di otak, putus obat tidur, atau perdarahan di kepala.

Situasi simpel lansia tidak ingin minum dan akibatnya dehidrasi juga pengaruhi perubahan kesadaran. Kecuali itu kurang garam juga dapat jadi penyebabnya, sebab lazimnya lansia itu tunduk tidak makan banyak garam,\\\” kata dr Heriawan.

Meskipun, dalam satu hari, lansia masih dibolehkan mengonsumsi satu sdt garam. Putus obat tidur dapat terjadi dikala lansia yang sudah terlanjur rutin minum obat tidur, lalu mengetahui bahayanya dan langsung stop mengonsumsi tanpa berkonsultasi dengan dokter.

Pemaparan itu diberikan dr Heriawan dalam Sarasehan \\\’Menjadi Lansia Sehat dan Mandiri\\\’ dalam rangka peringatan Hari Kesehatan Jiwa Sedunia di Hotel Bidakara, Jl Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Kamis (10/10/2013).

Kecuali gangguan kesadaran, para lansia juga rentan mengalami gangguan kesehatan berikut ini:

1. Inkontinensia air kencing atau ngompol

Situasi ini jikalau tidak langsung dituntaskan dapat menimbulkan infeksi kulit yang parah. Karena, banyak lansia yang slot mahjong acap kali malu mengatakan bahwa dirinya masih ngompol. Kecuali itu, sebab merasa tidak ingin merepotkan, mereka cenderung mengurangi minum hingga mengakibatkan dehidrasi.

\\\”Kali ngompol dapat disebabkan karean hipertensi, diabetes, atau ada gangguan di saluran kemih. Sebenarnya ini gampang dituntaskan asal kita memberi pengawasan dan penanganan yang tidak terlambat serta kencang,\\\” kata dr Heriawan.

2. Tak cakap bergerak

Banyak penyakit akut yang membuat para lansia cuma dapat meringkuk. \\\”Apabila anak muda sakit typhus dia duduk ambil minum sendiri masih dapat. Apabila lansia cuma duduk saja sudah susah,\\\” papar dr Herianto.

Apabila terus-terusan meringkuk, kecuali susah bergerak, lansia malah akan merasa pusing, tekanan darahnya rendah, terkena infeksi paru, dan ada penggumpalan atau sumbatan darah di tungkai.

\\\”Otot tidak bergerak selama tujuh hari saja 7,5 persen massa otot hilang, makanya makin lama ukuran kaki ya secara khusus akan mulai menyusut, kurus,\\\” tambah dr Herianto.

3. Gampang jatuh

Seiring bertambahnya usia, keseimbangan tubuh lansia dapat berkurang. Akibatnya, mereka malah lebih gampang jatuh. Nah, gampang jatuh yang dialami lansia dapat mengakibatkan patah tulang, nyeri, susah duduk, dan tidak dapat bergerak.

Karenanya dari itu, dr Heriawan mengatakan permu adanya perhatian dan kehati-hatian kepada orang tua yang berjalan atau berdirinya sudah mulai tidak stabil.

4. Depresi

Gejala depresi yang seringkali dialami lansia merupakan hilangnya minat untuk menjalankan suatu aktifitas. Karenanya dari itu, jangan anggap wajar jikalau orang tua mulai malas menjalankan aktifitas yang awam dikerjakannya sehari-hari.

\\\’Apabila ada perubahan aktifitas, perhatikan dahulu itu terjadi sementara atau dalam waktu yang lama agar penangannya tidak terlambat,\\\” sebut dr Heriawan.

5. Demensia atau pikun

Gangguan pelaksanaan kognitif seseorang yang lanjut usia atau dikenal dengan istilah pikun dapat disebabkan sebab stroke atau alzheimer. Demensia memang dimulai dengan orang yang menyenangi lupa. Melainkan, dr Heriawan mengingatkan bahwa jangan mendiagnosa lansia yang lupa sudah pasti demensia.

\\\”Demensia itu disertai gangguan lainnya seperti susah menjalankan kesibukan sehari-hari, ada gangguan makan, dan susah mengevaluasi. Karenanya dari itu perlu kita lakukan pengamatan, bukan menginterogasi apa yang mereka (lansia) natural,\\\” jelas dr Heriawan.

 

Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.