Perang Saudara Sudan: 134 Orang Tewas di Rumah Sakit Selatan

Lebih dari 130 orang tewas di sebuah Rumah Sakit Selatan di Kota El Fasher yang terkepung di wilayah Darfur, Sudan. Demikian disampaikan badan amal medis Medecins Sans Frontieres (MSF).

Pertarungan antar kategori dalam perang saudara Sudan untuk merebut kendali kota tersebut akhir-akhir ini dilaporkan semakin meningkat.

Situasinya menakutkan,\\\” kata seorang warga kepada BBC seperti dilansir Senin (27/5/2024), di mana rumah sakit dan pasar mengalami tembakan artileri hebat.

Militer telah berperang melawan paramiliter Pasukan Dukungan Kencang (RSF) selama lebih dari setahun dalam perang saudara yang telah menewaskan ribuan orang dan memaksa jutaan orang meninggalkan rumah mereka.

Hingga hari ini, militer Sudan masih konsisten merajai El Fasher. Kota ini telah menjadi daerah perlindungan bagi orang-orang yang kehilangan daerah tinggal pengaruh pertempuran di daerah lain.

Pada 10 Mei, RSF mengintensifkan serangan mereka kepada kota tersebut, yang disebut oleh Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres sebagai babak baru yang mengkhawatirkan dalam konflik Sudan.

MSF mengatakan salah satu Rumah Sakit Selatan yang ditunjangnya sedang berjuang untuk mengatasi meningkatnya korban jiwa.

\\\”Rumah Sakit South telah merawat 979 korban hanya dalam spaceman pragmatic waktu dua minggu,\\\” kata badan amal tersebut pada hari Minggu (26/5).

\\\”Sebanyak 134 orang tewas, sebuah pedoman intensitas kekerasan dalam pertempuran.\\\”

PBB menggarisbawahi bahwa persediaan di Rumah Sakit Selatan semakin menipis dan hanya akan bertahan selama seminggu.

Perang Saudara Sudan Terlupakan?

Pada hari Jumat (24/5), MSF mengatakan bahwa di seluruh kota, lebih dari 700 orang telah meninggal selama 10 hari terakhir.

Direktur medis rumah sakit milik pemerintah Arab Saudi di El Fasher menuturkan kepada BBC bahwa situasinya \\\”menakutkan\\\”.

\\\”Sejak pagi hari, RSF memulai penembakan artileri, menargetkan wilayah pemukiman, pasar, dan rumah sakit,\\\” kata Modther Ibrahim Suliman.

Rumah Sakit Arab Saudi dan Selatan ialah yang terakhir berfungsi di wilayah tersebut.

Rumah Sakit Arab Saudi sebelumnya ditutup pengaruh kekerasan tersebut, namun sebagian dibuka kembali untuk menangani kasus-kasus darurat.

Warga El Fasher mengatakan jalan masuk kepada makanan dan air semakin sulit. RSF telah menyerang kota dari tiga sisi dan memblokir seluruh trek pasokan.

Sedangkan mengalami kesusahan, banyak warga di kota tersebut tak meninggalkan rumah mereka karena pertempuran, malahan untuk menerima perawatan medis darurat.

Jurnalis Mohamed Zakaria mengatakan ia tak punya rencana untuk melarikan diri.

\\\”Tak ada daerah untuk pergi … Jalannya sangat sulit dan membahayakan dikala ini,\\\” tutur Zakaria.

Awal minggu ini, seorang spesialis PBB memperingatkan warga sipil di El Fasher menjadi sasaran karena etnis mereka.

Penasihat khusus PBB Alice Wairimu Nderitu menambahkan bahwa wilayah Darfur secara keseluruhan menghadapi risiko genosida yang semakin besar karena perhatian dunia konsisten terkonsentrasi pada perang Ukraina dan Jalanan Gaza.

Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.