Mengapa Mood Mudah Berubah? Ini 4 Penyebab Utama dan Cara Mengatasiny

Jakarta Mengapa mood gampang berubah? Pertanyaan ini mengarah pada kompleksitas perasaan dan pikiran manusia. Bukan rahasia lagi bahwa perubahan mood bisa terjadi dalam sekejap, seperti kilat menyambar langit yang cemerlang. Namun, apa yang sesungguhnya membikin mood kita menjadi demikian itu fluktuatif? Jawabannya bisa mencakup beragam faktor, dari tekanan harian hingga keadaan kesehatan jasmani dan mental.

Mengapa mood gampang berubah dengan cepat seringkali berhubungan dengan keadaan eksternal yang memicu stres atau transisi dalam kehidupan. Namun, apa yang membuatnya menjadi demikian itu mendalam? Apakah ada hal-hal yang tersembunyi di balik senyum atau air mata yang timbul secara tiba-tiba? Bukan hanya itu, faktor lingkungan dan budaya juga bisa berperan dalam perjalanan gelombang mood kita.

Dikala berdiskusi seputar mengapa mood gampang berubah, tidak bisa diacuhkan bahwa keadaan kesehatan mental dan emosionil juga berperan penting. Adakah relasi antara keadaan kesehatan kita dengan pola perubahan mood yang sering kali terjadi? Bagaimana kita bisa memahami dan mengelola perasaan-perasaan yang datang dan pergi dengan demikian itu cepat? Mungkin jawabannya ada pada upaya untuk lebih memahami diri sendiri dan mencari dukungan yang tepat spaceman pragmatic untuk menjaga keseimbangan batin.

Untuk berita lebih lengkapnya, berikut ini telah rangkum dari Health Line berita seputar penyebab dan mengapa mood gampang berubah, pada Kamis (18/4).

Gangguan Kesehatan Mental Penyebab Mengapa Mood Mudah Berubah

Gangguan kesehatan mental bisa memberi pengaruh bagaimana Anda merasa, berpikir, dan bertingkah. Beberapa gangguan kesehatan mental, seperti depresi klinis dan gangguan bipolar, dianggap sebagai gangguan mood atau afektif.

Gangguan depresi mencakup beragam keadaan, antara lain:

  1. Gangguan Depresi Mayor (MDD) seringkali ditandai dengan jangka waktu lama mood rendah, rasa putus cita-cita, dan kelelahan.
  2. Gangguan Depresi Persisten, sebelumnya diketahui sebagai distimia, dianggap kurang parah ketimbang MDD, meski gejalanya umumnya berlangsung selama 2 tahun atau lebih.
  3. Gangguan Depresi Mayor dengan Pola Musiman, juga disebut sebagai gangguan afektif musiman (SAD), umumnya terjadi selama musim panas atau musim dingin.
  4. Depresi Perinatal terjadi selama kehamilan.
  5. Depresi Postpartum terjadi sesudah melahirkan.
  6. Gangguan Disregulasi Mood yang Mengganggu (DMDD), yang umumnya hanya didiagnosis pada remaja, melibatkan ledakan yang tidak cocok dengan tahap perkembangan mereka.
  7. Gangguan bipolar juga bisa menyebabkan perubahan mood yang intens, tingkat daya, dan perilaku.

Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.